Rabu, 24 Juni 2015

Warung Tegal ( WarTeg)



WARTEG
Sandang papan dan pangan merupakan kebutuhan yang tidak bias dipisahkan dalam kehidupan manusia. Bicara tentang pangan, manusia butuh makan untuk menunjang aktifitasnya dalam berkegiatan sehari hari, bekerja, sekolah, bahkan ibadah. Bayangkan jika manusia tidak makan. Namun  makanan yang baik dan halallah yang manusia perlu makan.
Di Indonesia sendiri sudah menjadi adat dan budaya bahkan identitas dimana masing masing daerah di Indonesia punya makanan khas, yang membuat makanan di daerah daerah di Indonesia berbeda adalah cara membuat dan cara menyajikan, bahkan melayaninya jika makanan itu dijual. Contoh yang paling mudah adalh Warteg. Siapa sih yang tidak kenal warteg.


Bagi kamu anak perantauan yang ngekos pasti sangat akrab dengan warteg (warung tegal). Tetapi apakah kamu tahu asal usul warung tegal (warteg)? Kebanyakan orang pasti bilang warung tegal berasal dari kota Tegal. Jika ditanya lebih dalam maka kamu akan menjawab kebingungan. Nah cumibunting akan mencoba untuk menguraikan darimana asal usul warung tegal hingga bisa terkenal di seluruh penjuru Indonesia.
Warteg atau warung tegal merupakan warung makan yang menjajakan masakan rumahan dengan harga terjangkau. Kamu akan menemukan warteg dengan mudah di daerah perkantoran, sekitar kampus kampus, maupun di daerah kos kosan anak anak perkantoran dan mahasiswa. Mengapa mereka membuka warung makan tersebut di daerah daerah para pekerja atau pelajar? Kalau dinalar sangat mudah. Mahasiswa dan orang kantoran yang notabene ngekos dan tidak masak sendiri cenderung mencari makan di tempat luar. Nah apakah mereka mencari makan di restoran atau rumah makan terus? Jawabannya jelas tidak. Untuk menghemat pengeluaran, mereka mencari makanan yang higienis dan harganya terjangkau. Warteg ini merupakan salah satunya, warteg yang menjajakan masakan rumahan ini pas banget untuk anak kosan.

Di akses dari http://cumibunting.com/asal-usul-warung-tegal-warteg/ pukul 20:01 tanggal 24 Juni 2015 dengan berbagai perubahan.
Sumber gambar dari  https://id.wikipedia.org/wiki/Warung_Tegal diakses pukul 20:36 tanggal 24 Juni 2015

Identitas Diri

Identitas Diri

Nama               : Moh Yusroni
Alamat             :Muncang Larang RT03/02 Kecamatan Bumijawa Kabupaten Tegal
Agama             :Islam
Ttl                    :Tegal 25 Desember 1996
Jurusan            :Pendidikan Bahasa Inggris
Hobby             :Menggambar, menyanyi
Asal sekolah    :SMK N 1 BUMIJAWA
Motto hidup    :Lebih baik berkarya walaupun diejek daripada duduk diam



Aku hidup dalam sebuah keluarga sederhana bersama bapak, ibu dan lima kakakku,disebuah rumah kecil di bawah kuburan tempat mayat berserakan. Aku tinggal di sebuah desa nan sejuk bernama Muncang Larang, desa dengan pemandangan sejuta pesona,aku bisa melihat indahnya kabut tebal di puncak gunung Ciremai,aku bisa melihat gunung Slamet sebelah Timur rumah ketika erupsi.

Sebelah Barat rumah aku bisa melihat indahnya kerlap kerlip kota yang jaraknya ratusan kilometer sebelah Utara rumahku. Aku bisa melihat pemandangan hamparan sawah berterasering yang jika dilihat aku tak bisa bercakap,aku bisa menikmati segarnya air danau Wangon jika Minggu tiba.aku bisa menikmati segarnya udara diantara pohon pohon bambu petung yang tumbuh lebat beberapa meter dari rumahku,tumbuh sepanjang jalan dengan rindangnya layaknya di China sana, aku bisa menapaki jejak sejarah masa lalu dengan berkunjung ke beberapa tempat persembunyian tentara dulu, dan pohon pohon beringin besar tak terhitung sepanjang jalan menuju Wangon si sumber kehidupan.Aku bersyukur kepada Sang Maha Pencipta semua itu,menjadi saksi bisu  perjalanan masa kecilku. Andai bisa aku ingin kembali ke masa itu.




Senin, 17 Juni 2013

Perkenalan sang blogger baru ;)

20 November 2013

Aku hidup dalam sebuah keluarga sederhana bersama bapak, ibu dan lima kakakku,disebuah rumah kecil di bawah kuburan tempat mayat berserakan. Aku tinggal di sebuah desa nan sejuk bernama Muncang Larang, desa dengan pemandangan sejuta pesona,aku bisa melihat indahnya kabut tebal di puncak gunung Ciremai,aku bisa melihat gunung Slamet sebelah Timur rumah ketika erupsi.

Sebelah Barat rumah aku bisa melihat indahnya kerlap kerlip kota yang jaraknya ratusan kilometer sebelah Utara rumahku. Aku bisa melihat pemandangan hamparan sawah berterasering yang jika dilihat aku tak bisa bercakap,aku bisa menikmati segarnya air danau Wangon jika Minggu tiba.aku bisa menikmati segarnya udara diantara pohon pohon bambu petung yang tumbuh lebat beberapa meter dari rumahku,tumbuh sepanjang jalan dengan rindangnya layaknya di China sana, aku bisa menapaki jejak sejarah masa lalu dengan berkunjung ke beberapa tempat persembunyian tentara dulu, dan pohon pohon beringin besar tak terhitung sepanjang jalan menuju Wangon si sumber kehidupan.Aku bersyukur kepada Sang Maha Pencipta semua itu,menjadi saksi bisu  perjalanan masa kecilku.andai bisa aku ingin kembali ke masa itu.